TUNGKAL ULU – Di balik rimbunnya perkebunan kelapa sawit Desa Taman Raja, Kecamatan Tungkal Ulu, terselip sebuah duka yang luput dari pandangan. Rodi dan adik perempuannya, Nikita Azwa, kini hanya bisa pasrah menghuni rumah kayu yang kondisinya kian mengkhawatirkan. Tanpa pelukan orang tua, mereka kini harus bertaruh nyawa di bawah atap yang nyaris ambruk.
Penderitaan kakak beradik ini mencapai puncaknya saat cuaca ekstrem menghantam wilayah tersebut. Batang sawit yang besar tumbang diterjang angin kencang, menghancurkan area dapur mereka hingga rata dengan tanah. Kini, dinding papan yang sudah lapuk dimakan usia semakin miring, menyisakan kecemasan setiap kali hujan turun atau angin berembus kencang.
“Kami tidak punya pilihan. Sejak bapak dan ibu tiada, tidak ada biaya untuk memperbaiki ini. Kalau hujan, kami hanya bisa berdoa agar rumah ini tidak benar-benar roboh,” ungkap Rodi dengan tatapan kosong, Sabtu (28/2/26).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai tulang punggung di usia muda, Rodi harus memikul beban berat untuk melindungi adiknya. Namun, keterbatasan ekonomi membuat perbaikan rumah menjadi mimpi yang mustahil digapai sendirian. Kondisi ini bukan sekadar masalah hunian tidak layak, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan dua nyawa yatim piatu tersebut.
Warga sekitar yang prihatin mulai menyuarakan kegelisahan mereka. Mereka menilai situasi Rodi dan Nikita adalah potret darurat yang memerlukan intervensi langsung dari pemerintah daerah.
“Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat melalui Dinas Sosial atau Dinas Perkim tidak menutup mata. Mereka butuh bantuan bedah rumah sesegera mungkin sebelum jatuh korban,” ujar salah seorang warga setempat.
Harapan kini digantungkan pada nurani para pemangku kebijakan dan wakil rakyat di Tanjung Jabung Barat. Akankah Rodi dan Nikita terus dibiarkan memeluk dinginnya malam di rumah yang nyaris roboh, ataukah bantuan akan segera datang menjemput mereka menuju kehidupan yang lebih layak?
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal





![IRONI ANTREAN MANUAL: Menjelang momen Idul Fitri yang menuntut mobilitas transaksi tinggi, Bank Jambi justru mengalami kelumpuhan digital yang memaksa nasabahnya mengantre fisik secara melelahkan. Meski manajemen telah menjamin keamanan dana nasabah dan memulihkan saldo yang sempat terdampak, belum aktifnya layanan elektronik hingga hari ini menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat: apakah ini murni masalah teknis, atau upaya pengendalian dana nasabah di tengah krisis kepercayaan?. [FOTO: ILUSTRASI]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260307-WA0010-225x129.jpg)





