Evaluasi Total: Korban Diduga Kuat Tertindih Puing Dermaga
Kritik paling keras tertuju pada keengganan pihak otoritas mendatangkan alat berat ke lokasi jembatan jembatan penyeberangan roda empat yang ambruk. Muncul dugaan kuat bahwa salah satu korban terjebak dan tertindih di bawah puing-puing runtuhan material beton serta besi tua dermaga yang langsung karam ke dasar sungai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika benar ada korban yang terhimpit di bawah puing masif, maka strategi Tim SAR Gabungan dan para relawan yang terus baku hantam menyisir permukaan air (sweeping) sejauh beberapa kilometer menggunakan perahu kayu tradisional (pompong) akan menjadi sia-sia. Publik mempertanyakan mengapa hingga hari kelima pemda belum menerjunkan crane apung atau teknologi pemetaan bawah air (sonar scanner) untuk membongkar jembatan yang ambles tersebut.
Kendala Lapangan: Alasan Klasik yang Harus Dipecahkan
Tim penyelamat dari Basarnas, Satpolairud, Polres, Polsek, BPBD hingga ratusan warga desa yang bahu-membahu di lapangan memang dihadapkan pada kendala alam yang ekstrem. Selain arus bawah air yang liar, tingkat kekeruhan air akibat lumpur pekat menyebabkan jarak pandang penyelam berada pada tingkat zero visibility (nol sentimeter).
Namun, kendala alam ini dinilai sengaja dijadikan alasan klasik untuk menutupi minimnya modernisasi alat penyelamatan di daerah. Menghadapi situasi air keruh dan puing beton seberat puluhan ton dengan metode menyelam tradisional (diving manual) tanpa alat berat pendukung hanya akan memperpanjang ketidakpastian serta membuang-buang waktu golden time penyelamatan.
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal.com
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya












Komentar