JAKARTA — Prediksi kelam yang pernah dilontarkan oleh mendiang ekonom senior Indonesia sekaligus pendiri INDEF, Faisal Basri, kini menjadi kenyataan pahit bagi perekonomian nasional. Level psikologis nilai tukar Rupiah yang ia khawatirkan akhirnya jebol, di mana mata uang Garuda resmi terpuruk hingga menembus angka Rp18.000 per Dolar AS.
Sebelum wafat pada September 2024, Faisal Basri dalam sebuah pemaparan ekonomi politik di Teater Utan Kayu pada Mei 2024 secara lantang memperingatkan publik mengenai rapuhnya fondasi fiskal dan risiko integrasi krisis ekonomi-politik.
Dalam rekaman video yang kini kembali viral di berbagai lini masa, Faisal Basri secara spesifik menyatakan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi makroekonomi saat ini mencerminkan peringatan tersebut, di mana kombinasi tekanan internal dan eksternal melemahkan nilai tukar. Faktor utama meliputi membengkaknya beban utang, arus modal keluar (capital outflow), kebijakan suku bunga tinggi dari The Fed, serta pelemahan di sektor manufaktur.
Meskipun Bank Indonesia telah melakukan intervensi, tekanan pasar tetap mendorong Rupiah melampaui batas psikologis Rp18.000. Fenomena ini berdampak langsung pada kenaikan harga barang dan penurunan daya beli masyarakat, menegaskan risiko krisis ekonomi yang sebelumnya diprediksi.
- Beban Utang Menggunung: Pembayaran bunga dan pokok utang negara yang jatuh tempo menekan ruang fiskal secara drastis.
- Capital Outflow: Derasnya aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia akibat ketidakpastian global.
- Suku Bunga AS Tinggi: Kebijakan moneter ketat dari Bank Sentral Amerika Serikat yang terus menyedot likuiditas global ke luar negeri.
- Pelemahan Manufaktur: Sektor riil domestik mengalami kontraksi yang menurunkan daya saing ekspor nasional.
Krisis yang diramal Faisal Basri ini bukan sekadar angka di papan bursa. Lonjakan Dolar AS hingga Rp18.000 ini mulai memicu efek domino, mulai dari kenaikan harga barang impor, pembengkakan biaya produksi industri, hingga potensi lonjakan inflasi yang langsung memukul daya beli masyarakat luas.
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal.com












Komentar