Kritik Ahok yang Bijak Terhadap Hasrat Gibran Ingin Menjadi Calon Wakil Presiden

Lintas Tungkal

- Redaksi

Minggu, 22 Oktober 2023 - 19:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jacob Ereste

Jacob Ereste

NANTEN – Penilaian Ahok alias Basuki Tjahaya Purnama tentang Gibran Rakabuming Raka, dalam kapasitas sebagai Walikota Solo yang belum rampung itu hendak maju dalam kontestasi Pilpres 2024, sebagai wakil Calon Presiden memang belum pantas.

Penilaian Ahok yang jernih dan waras ini artinya sungguh baik dan sehat demi kebaikan bersama segenap warga bangsa untuk menjaga arah masa depan bangsa dan negara Indonesia yang tidak boleh dijadikan pertaruhan. Karena menurut Ahok, untuk menjadi Wakil Presiden Indonesia, Gibran belum memiliki pengalaman. Artinya kekayaan khasanah ilmu dan pengetahuan belum cukup banyak dan luas. Sementara partnernya mungkin sangat banyak yang bisa diingat. Karena usia yang sangat senjang antara keduanya.

Jadi memang untuk Gibran Rakabuming Raka yang begitu ngotot ingin jadi Wakil Presiden bersama Prabowo Subianto, bukan saja akan menjadi beban, tapi juga bisa mengurangi antusias pemilih memberikan suara untuk memenangkan Pemilihan Presiden yang sangat diperlukan sosok yang tangguh guna mengatasi berbagai persoalan serta kerusakan yang amat sangat berat untuk dihadapi pada masa mendatang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seperti kata Ahok, sosok Gibran Rakabuming Raka belum memiliki pengalaman untuk memimpin negara sebesar Indonesia. Karena nama Gibran Rakabuming Raka menjadi salah satu nama yang dipertimbangkan oleh Koalisi Indonesia Maju KIM) untuk menjadi Cawapres pendamping Prabowo Subianto pada, Pemilu 2024.

Secara politis alternatif pilihan ini ada bagusnya untuk meneruskan hasrat Joko Widodo memperpanjang ratai kekuasaannya. Tapi secara teknis akan menjadi beban Prabowo Subianto untuk mendulang suara. Sebab bisa saja banyak orang yang tak hendak memberikan suara kepada Prabowo Subianto, hanya karena dia mau menggandeng Gibran Rakabuming Raka yang menjadi kekhawatiran banyak orang terhadap budaya politik atau kekuasaan atas dasar dinasty.

Maksud Ahok menyampaikan pandangannya ini, bisalah dipahami bukan untuk meremehkan Gibran atau anak muda lainnya, tapi dalam tata negara seorang pemimpin memang harus mengerti konstitusi, bukan cuma sekedar berani untuk maju, karena harus dilengkapi track record.

“Butuh waktu dan pembuktian, tidak instan”, kata Ahok seperti yang dikutif lengkap oleh media moslemtoday.com.

“Gibran belum teruji dan belum berpengalaman. Jadi Walikota saja baru dua atau tiga tahun. Dia belum teruji”, kata Ahok saat ditanya awak media di Jakarta, Jum’at, 20 Oktober 2023. Karena untuk mengurus negara sebesar Indonesia, mesti memiliki pengalaman menjadi legislatif tingkat nasional maupun eksekutif tingkat provinsi, tandas Ahok. Sebab hanya dengan pengalaman seperti itu, seseorang baru akan mampu memiliki pengetahuan tata negara yang lengkap.

Pendapat dan kritik Basuki Tjahaya Purnama ini sungguh terkesan lebih bijak memberi komentar terhadap hasrat Gibran Rakabuming Raka untuk maju menjadi Calon Wakil Presiden seperti yang diduga banyak orang sebelumnya akan dipasangkan dengan Prabowo Subianto. Tanda dorongan kuat dari Sang Ayah, Joko Widodo pun, selaku Presiden cukup diketahui oleh banyak pihak. Mulai dari indikasi upaya mengubah batas usia minimal 40 tahun melalui MK (Mahkamah Konstitusi) lebih dari cukup meyakinkan ada dorongan yang kuat itu. Belum lagi dengan riuhnya hasrat Kaesang Pangarep yang juga hendak mencalonkan diri pula menjadi Walikota Depok.

Banten, 22 Oktober 2023

Penulis : Jacob Ereste

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BLU Impor Minyak: Ketika Negara Lebih Hobi Bikin “Anak Baru” Daripada Urus “Anak Kandung”
MBG dan KKDM Penyumbang Defisit Terbesar, Investasi SDM atau Jebakan Utang Baru?
Masa Depan ASN PPPK dalam Pusaran UU HKPD: Efisiensi atau Eksekusi?
Membedah Panggung “Zakat Politic”: Saat Kesalehan Umat Jadi Komoditas Citra
Negara Memberi, Negara Menyita: Mengapa Ribuan Warga Kota Jambi Terjebak dalam “Lahan Terlarang” Pertamina?
Analisis Kritis: Mengapa Kopdes Merah Putih Terancam “Layu Sebelum Berkembang”
Menyelamatkan Arakan Sahur; Mengembalikan Bunyi yang Hilang, Memangkas Kemewahan yang Membunuh
Beras & Cabai Tak Tumbuh di Atas Aspal Operasi Pasar: Hentikan Seremonial, Urus Produksi!
Berita ini 94 kali dibaca
KONTEN PROMOSI pada widget diatas merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan oleh pihak ketiga, bukan dari redaksi Lintastungkal.com. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten promosi ini.

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 18:12 WIB

BLU Impor Minyak: Ketika Negara Lebih Hobi Bikin “Anak Baru” Daripada Urus “Anak Kandung”

Senin, 6 April 2026 - 17:21 WIB

MBG dan KKDM Penyumbang Defisit Terbesar, Investasi SDM atau Jebakan Utang Baru?

Sabtu, 28 Maret 2026 - 18:11 WIB

Masa Depan ASN PPPK dalam Pusaran UU HKPD: Efisiensi atau Eksekusi?

Kamis, 12 Maret 2026 - 13:54 WIB

Membedah Panggung “Zakat Politic”: Saat Kesalehan Umat Jadi Komoditas Citra

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:41 WIB

Negara Memberi, Negara Menyita: Mengapa Ribuan Warga Kota Jambi Terjebak dalam “Lahan Terlarang” Pertamina?

Berita Terbaru