JAKARTA – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa hubungan industrial di Indonesia tidak boleh lagi hanya terjebak pada level “harmonis” atau sekadar meredam konflik. Di tengah pesatnya penetrasi Kecerdasan Buatan, atau Artificial Intelligence (AI) dan otomasi, hubungan antara pengusaha dan pekerja harus bertransformasi menjadi kemitraan strategis yang progresif.
Pesan tegas ini disampaikan Menaker saat membuka Musyawarah Nasional Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan (FSP FARKES) KSPSI di Jakarta, Kamis (2/4/2026). Ia memperingatkan bahwa tanpa perubahan paradigma, pekerja Indonesia berisiko tertinggal oleh laju teknologi.
“Hubungan industrial harus naik kelas. Tidak cukup lagi hanya harmonis, tapi harus transformatif. Kita harus memastikan bahwa di era AI dan otomasi ini, prinsip no one left behind benar-benar terwujud. Inovasi dan produktivitas perusahaan harus berjalan seiring dengan perlindungan serta kesejahteraan pekerja,” tegas Yassierli.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Transformasi Menuju Kemitraan Strategis
Menurut Menaker, banyak perusahaan masih berada pada level maturitas hubungan industrial yang rendah, yakni hanya sebatas kepatuhan regulasi. Ia mendorong perusahaan untuk naik ke level tertinggi, di mana pekerja tidak lagi dipandang sebagai faktor produksi, melainkan aset strategis perusahaan.
Ada tiga indikator utama “Naik Kelas” yang ditekankan Menaker:
- Kehadiran Serikat Pekerja: Perusahaan yang belum memiliki SP/SB didorong untuk segera menghadirkannya sebagai wadah dialog.
- Kualitas PKB: Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tidak boleh hanya formalitas “kering”, melainkan harus berisi solusi win-win yang adaptif terhadap perubahan zaman.
- Kolaborasi Produktivitas: Hubungan industrial yang sehat harus berbasis pada saling percaya (mutual trust) untuk mendongkrak produktivitas yang berdampak langsung pada kesejahteraan.
Menghadapi Disrupsi Digital
Menaker menilai sektor kesehatan dan farmasi pun tak luput dari pergeseran struktur kerja akibat digitalisasi. Oleh karena itu, ia meminta serikat pekerja untuk tidak alergi terhadap teknologi, melainkan ikut mendorong cara kerja modern yang lebih efisien tanpa meninggalkan hak-hak dasar buruh.
“Mimpi saya, semua perusahaan di Indonesia mengalami kenaikan maturitas hubungan industrial. Dengan semangat gotong royong dan musyawarah, kita bisa menyelesaikan persoalan secara adil demi keberlanjutan usaha dan kesejahteraan pekerja menuju Indonesia Emas,” tutupnya.
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Biro Humas Kemnaker









![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-360x200.jpg)

