JAMBI – Lonceng kematian kepercayaan publik sedang berdentang keras di setiap sudut kantor cabang Bank 9 Jambi. Rp143 miliar raib dalam sekejap mata, meninggalkan lubang hitam yang tak hanya menyedot saldo nasabah, tapi juga menghanguskan kredibilitas manajemen yang kini terlihat lumpuh tanpa daya.
Di tengah jeritan UMKM yang arus kasnya mampet total, publik mulai bertanya-tanya: apakah kita sedang menyaksikan kepiawaian peretas internasional, ataukah sedang menonton sandiwara ‘orang dalam’ yang berlindung di balik topeng audit forensik yang tak kunjung usai?
Lima pekan telah berlalu sejak badai ‘perampokan digital’ itu menghantam, namun yang tersisa hanyalah alibi rumit tentang labirin kripto, sementara manajemennya tampak asyik bersembunyi di balik retorika audit, membiarkan ekonomi rakyat kecil perlahan-lahan meregang nyawa.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
UMKM: Korban di Balik “Ketidaksanggupan” Manajemen
Kelumpuhan Mobile Banking selama lebih dari sebulan adalah eksekusi mati bagi ekosistem UMKM di Jambi. Arus kas macet, transaksi dengan supplier terputus, dan ekonomi rakyat kecil lumpuh total. Ironisnya, di tengah kegagalan sistemik ini, mesin penagih pinjaman bank tetap bekerja tanpa kompromi. Rakyat dipaksa memaklumi kegagalan bank, namun bank tidak memberi ampun pada cicilan rakyat.
Di mana taji Otoritas Jasa Keuangan (OJK)? Sikap OJK Jambi yang terlihat “loyo” tanpa sanksi tegas dan deadline pemulihan yang nyata menimbulkan tanya besar: Apakah regulator sedang melindungi institusi, atau melindungi kegagalan direksi?
Alibi Kripto: Tabir Asap untuk Kelalaian Internal?
Narasi “pelacakan aset kripto” mulai terasa seperti dongeng pengantar tidur untuk meredam amarah publik. Rakyat Jambi tidak butuh kuliah tentang sulitnya melacak blockchain; mereka butuh tersangka. Publik mencium aroma amis: mungkinkah audit forensik yang berlarut-larut ini hanyalah strategi untuk mengulur waktu demi menutupi keterlibatan “orang dalam”?
“Jika malingnya orang luar, kenapa sistem tidak segera pulih? Jika malingnya orang dalam, kenapa belum ada yang berbaju oranye?” Pertanyaan ini bergema di setiap sudut pasar dan media sosial.
Ultimatum: Pulih atau Ganti!
Kepercayaan adalah mata uang tunggal dalam perbankan. Saat ini, Bank 9 Jambi sedang berada di ambang bangkrut secara moral. Jika Polda Jambi tidak segera menetapkan tersangka dan layanan digital tidak kembali normal dalam hitungan hari, maka Bank Jambi sedang menggali liang lahatnya sendiri.
Pilihannya hanya dua bagi pemegang saham dan jajaran direksi: Segera tangkap pelakunya dan pulihkan sistem secara total, atau mundur dan serahkan kursi kepemimpinan kepada yang mampu. Rakyat Jambi tidak boleh terus-menerus menanggung beban atas ketidakmampuan manajemen dalam menjaga harta masyarakat.
Setelah membaca fakta di atas, bagaimana menurut Anda masa depan bank kebanggaan Jambi ini?
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal








![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-360x200.jpg)


